Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Friday, August 16, 2019

Ikhtiar dan Rejeki Tak Terduga

Waktu khutbah Idul Adha kemarin, selain menyampaikan cerita yang berulang yang mengingatkan tentang keimanan Nabi Ibrahim AS dan putranya yaitu Ismail, khotib juga menyampaikan kisah Siti Hajar yang sebenarnya bukan cerita baru dan sudah sering saya dengar.

Tapi kisah ini menjadi menarik karena khotib menceritakan sisi lain hikmah dari kisah Siti Hajar dan Ismail yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS di tengah padang pasir yang gersang karena perintah Alloh SWT tersebut.

Anda yang muslim pasti sudah hafal cerita tersebut mengisahkan ketika Siti Hajar kehabisan perbekalan dan Ismail menangis kehausan. Kemudian Siti Hajar dalam kepasrahannya tetap berikhtiar mencari air, tetapi meskipun sampai 7 kali bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwa, beliau tidak menemukan air sama sekali.

Dan kemudian, akhirnya Alloh SWT menurunkan pertolongannya dengan mengeluarkan air zamzam di tengah gurun pasir tersebut. Menariknya, air zamzam tersebut tidak muncul di sepanjang jalan yang ditempuh oleh Siti Hajar ketika berikhtiar mencari air, tetapi munculnya justru di dekat bayi Ismail, dan ada yang mengatakan munculnya tepat di bawah telapak kaki Ismail.

Lokasi munculnya air zamzam tersebut adalah titik awal Siti Hajar mulai bergerak untuk berikhtiar mencari air. Setelah bolak-balik Shafa Marwa sebanyak 7 kali, airnya malah muncul di tempat Ismail ditinggalkan, bukan di sepanjang perjalanan yang ditelusuri saat Siti Hajar mencarinya.

Sehingga mungkin ada yang bertanya, "Kalau gitu ngapain cape-cape lari bolak-balik Shafa Marwa kalau ujung-ujungnya airnya nongol di bawah kaki Ismail?"

Kita sudah tahu jawabannya. Alloh SWT ingin menguji ketakwaan Siti Hajar. Tapi ada pesan lain yang tertangkap dari kisah ini yaitu tentang "Kewajiban ikhtiar" dan "Rejeki tak terduga".

Kalau Siti Hajar hanya diam saja meratapi nasibnya dan mengeluhkan kesulitannya, mungkin Alloh SWT tidak akan memunculkan air amzam tersebut. Tetapi karena ada ikhtiar yang dilakukan Siti Hajar, maka Alloh pun mengganjarnya dengan mengeluarkan air zamzam di tempat Ismail berada.



Tentu saja Siti Hajar mensyukurinya dan sama sekali tidak protes dengan mengatakan, "Ya Alloh, tahu gitu kan gak usah cape-cape lari ke sana kemari..." karena beliau tahu itu adalah ganjaran atas ikhtiar lahir dan ikhtiar batinnya, yaitu ikhtiar fisik dimana beliau bergerak mencari air, dan ikhtiar batin yaitu kepasrahan dan keyakinannya akan pertolongan Alloh SWT.

Dari kisah ini kita bisa ambil hikmahnya, bahwa ketika kita sedang kesulitan rejeki maka kita wajib ikhtiar, lakukan apapun berdasarkan ide yang terpikirkan di kepala atau kesempatan yang terlihat di depan mata. Nantinya, bisa jadi kita akan berhasil mengatasi masalah rejeki tersebut melalui perantaraan ikhtiar yang kita tempuh, atau bisa jadi dari jalan lain yang tak terduga.

Misalnya jika anda sedang jadi pengangguran karena kena PHK atau usaha anda bangkrut, tapi ada keluarga yang harus dinafkahi dan hutang yang harus dibayar, maka anda wajib berikhtiar untuk mendapatkan solusinya.

Pada awalnya mungkin anda tidak tahu usaha apa yang harus anda lakukan, dan harta anda yang tersisa adalah sebuah motor. Bukan tidak mungkin anda harus ngojek dulu sebagai ikhtiar minimal supaya dapur tetap ngebul.

Dalam perjalanannya bisa jadi ada penumpang yang terkesan dengan kesantunan anda saat melayani penumpang, dan dia menawarkan anda pekerjaan yang lebih baik. Atau bisa jadi salah satu penumpang anda adalah teman lama yang kemudian membantu anda memberikan pekerjaan, atau bisa jadi ada saudara yang tiba-tiba datang ke rumah menawarkan proyek besar. Ada banyak sumber rejeki tak terduga lainnya yang kemungkinannya tak terbatas.

Intinya adalah BERGERAK dulu. Lakukan apapun yang terpikirkan untuk dikerjakan, hasil akhir biar Alloh yang menentukan. Bisa jadi hasil akan anda dapatkan dari jalan yang sedang anda upayakan, atau bisa jadi malah dapat dari sumber tak terduga yang terbaik sesuai kehendakNYA.

Sunday, July 14, 2019

Kekuatan Ucapan Terima Kasih Ala Wahei Takeda


Wahei Takeda (1933 - 2016)
Ini adalah kisah yang diceritakan dalam sebuah buku berjudul Happy Money: The Japanese Art of Making Peace with Your Money karya Ken Honda, seorang pebisnis sekaligus penulis buku-buku bertema pengembangan diri di Jepang.

Ken Honda memiliki seorang mentor yang bernama Wahei Takeda, dan mentornya inilah yang sering disebutnya dalam buku Happy Money tersebut.

Wahei Takeda adalah seorang investor besar yang sering disebut-sebut sebagai Warren Buffetnya Jepang. Lahir pada tanggal 4 Juli 1933 dan wafat pada tanggal 21 Juli 2016. Dia bukan hanya disebut sebagai investor paling sukses di Jepang, tapi juga dikenal sebagai investor paling bahagia di Jepang.

Dalam salah satu bab buku Happy Money, Ken Honda menceritakan kembali sebuah kisah yang pernah disampaikan padanya oleh mendiang Wahei Takeda.

Ada seorang pria yang mendatangi Wahei Takeda dalam keputusasaan karena dia punya hutang besar dan membutuhkan uang. Wahei kemudian berkata bahwa dia akan memberi pria tersebut uang tapi dengan syarat dia harus mengucapkan kata 'arigato' (terima kasih) sebanyak 100.000 kali. Itu berarti dia harus mengucapkan terima kasih setiap menit setiap hari selama beberapa bulan. Setelah itu barulah uangnya akan diberikan.

Maka pria itu pun setuju dan melakukan syarat yang diberikan Wahei Takeda untuk mengucapkan terima kasih setiap hari sampai mencapai 100.000 kali. Tetapi ketika tugasnya selesai dan waktu yang dijanjikan tiba, yaitu saatnya untuk mendapatkan pinjaman uang dari Wahei Takeda, secara mengejutkan ternyata pria tersebut sudah tidak membutuhkan uang itu lagi.

Kenapa? Karena dengan mempraktekkan mengucapkan terima kasih setiap menit setiap hari, ternyata pola pikirnya telah berubah dan rasa bersyukurnya mulai tumbuh, sehingga entah bagaimana caranya dia mendapatkan rejeki yang bisa membuatnya melunasi semua hutangnya dan dia tak perlu meminjam uang lagi pada Wahei Takeda.

Kisah ini membuktikan bahwa ketika kita bersyukur, kita melepaskan energi yang powerful ke semesta. Kita menjadi sadar bahwa segala sesuatu yang kita punya sudah cukup, kita tercukupi dan kita sudah punya semua yang kita butuhkan.

Wahei Takeda sendiri adalah sosok yang menggunakan prinsip berterima kasih sebagai kunci kesuksesannya. Dia selalu berterima kasih pada semua hal yang ditemuinya mulai dari orang-orang, benda-benda, alam sekitar, juga pada Tuhan.

Di pabrik permennya sendiri yang sudah berdiri sejak tahun 1952, Wahei Takeda sengaja merekam suara 50 anak-anak yang melantunkan kata "Arigato" berulang-ulang setiap 2 detik. Senandung arigato ini diperdengarkan secara terus menerus selama jam kerja melalui loud speaker dan dapat terdengar di setiap lini produksi pabriknya.

Pabrik Permen Wahei Takeda

Menurut Wahei Takeda, ucapan Arigato atau terima kasih ini ditujukan kepada karyawan-karyawannya sebagai apresiasi atas kerja keras mereka, dan juga ditujukan pada permen-permen yang sedang diproduksi. Karena Wahei percaya permen-permen yang sedang dibuat itu bisa mendengar senandung terima kasih yang dinyanyikan 50 orang anak tersebut, sehingga getaran rasa terima kasihnya akan sampai kepada anak-anak yang membeli dan memakan permennya. Dan itulah rahasia sukses penjualan permennya menurut Wahei Takeda.




Sunday, August 12, 2018

Filosofi Dagang Ibu Sri

Ibu Sri adalah penjual sayur langganan saya dan istri saya. Beliau sudah 40 tahun setia dengan propesinya, punya anak sekitar 7 orang dan sudah berumah tangga semua.

Orangnya selalu menyapa dan melayani pelanggan dengan semangat, ekspresi wajahnya pun selalu ceria, suka ngasih tahu modal belanja dia berapa, dan cuma ambil untung seribu sampe 5 ribu rupiah aja tergantung item apa yang dijual. Kadang beliau ngasih bonus sama pelanggannya, misalnya beli kol setengah, dia malah kasih satu dan kita cuma disuruh bayar setengah.

Sementara pedagang lain sepi khususnya di tahun ini yang konon katanya ekonomi lagi lesu, setiap sayah ke pasar sayah lihat lapak Ibu Sri selalu yang paling rame.

Karena saya dan istri saya sudah akrab sama beliau, kadang kami berlama-lama di sana untuk ngobrol sama beliau meskipun belanja sudah selesai. Iseng saya pun nanya beliau.

Saya: Bu, pernah ngalamin gak dagangnya sepi banget?

Bu Sri: "Alhamdulillah gak pernah tuh..." jawabnya dengan logat medoknya.

Saya: Kok bisa gitu? Apa rahasianya bu?

Bu Sri: Aku mah gak pernah liat sepi atau nggak, gak pernah liat untungnya berapa, yang penting ada buat besok belanja, itu ajah.

Hening sejenak...angin berhembus perlahan...daun-daun berguguran...(ini sih lebay)

Saya: Bu, ibu kan hampir gak pernah libur ya kecuali lebaran. Udah gitu tiap hari belanja jam 2 pagi terus langsung jualan lagi di pasar sampe sore. Apa gak cape bu?

Bu Sri: Gak tuh, aku mah seneng ajah, dapet duit soalnya hehehe...

Kalau ada pelanggannya yang ngutang, dia gak mempermasalahkan, karena kata beliau, "Gak masalah, aku mah udah gak pusing soal duit lagi, yang penting udah dapat untung..."
Ketika pembicaraan berlanjut ke topik melewati masa-masah susah, beliau berkata...

"Aku mah kalo lagi susah juga ketawa ajah, aku mah orangnya emang gituh..." jawabnya sambil ngikik.

Di perjalanan pulang belanja, saya dan istri pun membahas filosopi Bu Sri, karena banyak yang harus kami contoh dari beliau, khususnya soal mencintai propesi.

Memang bisa dibilang "Prett!" kalo kita dagang bukan buat cari untung dan bukan buat cari duit. Tapi kita tetap punya pilihan, mau dagang karena terpaksa, atau mau dijalani dengan penuh cinta. Dua-duanya punya potensi untuk berhasil. Tapi sayah dan si cintah sepakat, bahwa antara FEAR BASED BUSINESS dan LOVE BASED BUSINESS, perjalanannya akan lebih mudah ditempuh ketika ada cinta hadir di sana.

Yang namanya turun naik dalam usaha itu biasa. Tapi usaha yang dijalani dengan terpaksa apalagi berdasarkan rasa takut, maka saat dagangan sepi akan berpotensi menyebabkan rasa frustasi, cemas dengan masa depan, ide mentok, dan berpotensi membuat orang jadi kutu loncat dengan cari bisnis lain yang lebih stabil dan lebih gede untungnya, padahal stabilnya bisnis dan gedenya untung bukanlah semata-mata karena bisnisnya melainkan juga faktor "siapa orang yang ada di belakangnya" dan atas izinNya tentunya.

Sedangkan jika dijalani dengan cinta, maka kita bisa tetap jalani usahanya dengan sabar, konsisten, serta tidak mudah menyerah seperti perut yang terus maju dan pantang mundur, sehingga kita bisa tetap ketawa saat celana...eh, omset merosot, dan bisa tersenyum lega saat omset kembali meroket.

Ituh!