Waktu khutbah Idul Adha kemarin, selain menyampaikan cerita yang berulang yang mengingatkan tentang keimanan Nabi Ibrahim AS dan putranya yaitu Ismail, khotib juga menyampaikan kisah Siti Hajar yang sebenarnya bukan cerita baru dan sudah sering saya dengar.
Tapi kisah ini menjadi menarik karena khotib menceritakan sisi lain hikmah dari kisah Siti Hajar dan Ismail yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS di tengah padang pasir yang gersang karena perintah Alloh SWT tersebut.
Anda yang muslim pasti sudah hafal cerita tersebut mengisahkan ketika Siti Hajar kehabisan perbekalan dan Ismail menangis kehausan. Kemudian Siti Hajar dalam kepasrahannya tetap berikhtiar mencari air, tetapi meskipun sampai 7 kali bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwa, beliau tidak menemukan air sama sekali.
Dan kemudian, akhirnya Alloh SWT menurunkan pertolongannya dengan mengeluarkan air zamzam di tengah gurun pasir tersebut. Menariknya, air zamzam tersebut tidak muncul di sepanjang jalan yang ditempuh oleh Siti Hajar ketika berikhtiar mencari air, tetapi munculnya justru di dekat bayi Ismail, dan ada yang mengatakan munculnya tepat di bawah telapak kaki Ismail.
Lokasi munculnya air zamzam tersebut adalah titik awal Siti Hajar mulai bergerak untuk berikhtiar mencari air. Setelah bolak-balik Shafa Marwa sebanyak 7 kali, airnya malah muncul di tempat Ismail ditinggalkan, bukan di sepanjang perjalanan yang ditelusuri saat Siti Hajar mencarinya.
Sehingga mungkin ada yang bertanya, "Kalau gitu ngapain cape-cape lari bolak-balik Shafa Marwa kalau ujung-ujungnya airnya nongol di bawah kaki Ismail?"
Kita sudah tahu jawabannya. Alloh SWT ingin menguji ketakwaan Siti Hajar. Tapi ada pesan lain yang tertangkap dari kisah ini yaitu tentang "Kewajiban ikhtiar" dan "Rejeki tak terduga".
Kalau Siti Hajar hanya diam saja meratapi nasibnya dan mengeluhkan kesulitannya, mungkin Alloh SWT tidak akan memunculkan air amzam tersebut. Tetapi karena ada ikhtiar yang dilakukan Siti Hajar, maka Alloh pun mengganjarnya dengan mengeluarkan air zamzam di tempat Ismail berada.
Tentu saja Siti Hajar mensyukurinya dan sama sekali tidak protes dengan mengatakan, "Ya Alloh, tahu gitu kan gak usah cape-cape lari ke sana kemari..." karena beliau tahu itu adalah ganjaran atas ikhtiar lahir dan ikhtiar batinnya, yaitu ikhtiar fisik dimana beliau bergerak mencari air, dan ikhtiar batin yaitu kepasrahan dan keyakinannya akan pertolongan Alloh SWT.
Dari kisah ini kita bisa ambil hikmahnya, bahwa ketika kita sedang kesulitan rejeki maka kita wajib ikhtiar, lakukan apapun berdasarkan ide yang terpikirkan di kepala atau kesempatan yang terlihat di depan mata. Nantinya, bisa jadi kita akan berhasil mengatasi masalah rejeki tersebut melalui perantaraan ikhtiar yang kita tempuh, atau bisa jadi dari jalan lain yang tak terduga.
Misalnya jika anda sedang jadi pengangguran karena kena PHK atau usaha anda bangkrut, tapi ada keluarga yang harus dinafkahi dan hutang yang harus dibayar, maka anda wajib berikhtiar untuk mendapatkan solusinya.
Pada awalnya mungkin anda tidak tahu usaha apa yang harus anda lakukan, dan harta anda yang tersisa adalah sebuah motor. Bukan tidak mungkin anda harus ngojek dulu sebagai ikhtiar minimal supaya dapur tetap ngebul.
Dalam perjalanannya bisa jadi ada penumpang yang terkesan dengan kesantunan anda saat melayani penumpang, dan dia menawarkan anda pekerjaan yang lebih baik. Atau bisa jadi salah satu penumpang anda adalah teman lama yang kemudian membantu anda memberikan pekerjaan, atau bisa jadi ada saudara yang tiba-tiba datang ke rumah menawarkan proyek besar. Ada banyak sumber rejeki tak terduga lainnya yang kemungkinannya tak terbatas.
Intinya adalah BERGERAK dulu. Lakukan apapun yang terpikirkan untuk dikerjakan, hasil akhir biar Alloh yang menentukan. Bisa jadi hasil akan anda dapatkan dari jalan yang sedang anda upayakan, atau bisa jadi malah dapat dari sumber tak terduga yang terbaik sesuai kehendakNYA.


0 comments:
Post a Comment