Tuesday, May 9, 2017

Kejar Passion Atau Uang?

Ada banyak cara untuk menjadi sukses. Salah satunya konon katanya adalah, "Temukan passion-mu, maka uang pun akan mengikuti.

Di sisi lain, ada juga yang bilang, "Tidak ada yang salah dengan mengejar passion, tapi dalam hal memenuhi kebutuhan hidup, maka mencari uang adalah fokus utama".

Hal itu kadang jadi perdebatan, karena semua punya alasan dan bukti masing-masing tentang pendapat yang mereka pertahankan.

Terus mana yang bener?

Menurut saya dua-duanya bener.

Kita bisa sukses melalui passion, tapi kita juga bisa sukses meski bidang yang kita jalani bukan passion kita. Tentunya tergantung seperti apa definisi sukses yang kita yakini. Karena tidak semua orang mengartikan sukses sebagai keberhasilan dari sisi materi saja.

Memang lebih enak kalau kita kerja di bidang yang kita suka, atau dengan kata lain memiliki passion di situ karena kerja keras pun tidak akan terasa seperti kerja, tapi lebih terasa sebagai hiburan bahkan permainan. Kadang kita bisa kerja seharian saking asyiknya menikmati pekerjaan.

Tetapi, tidak semua orang bisa langsung menemukan passionnya. Terutama mereka yang sedang kepepet dan kesulitan finansial, banyak hutang, bahkan kadang makan saja susah, dan saya juga pernah mengalaminya.

Disaat seperti itu, menemukan passion bukanlah opsi terbaik, karena terkadang menemukan passion itu butuh waktu lama hingga bertahun-tahun lamanya sedangkan saya harus makan, dan memenuhi kebutuhan hidup adalah prioritas utama. Bahkan meski sudah coba menggali passion lewat program-program seperti tes bakat, terapi, dll, tetap saja saya tidak yakin dengan passion saya. Hasil yang ditunjukkan melalui tes bakat atau terapi tersebut justru tidak menarik minat saya.

Yang ada di pikiran saya waktu itu hanyalah bagaimana caranya melunasi hutang dengan cepat dan bisa hidup tenang serba berkecukupan.

Jadi, yang saya bisa lakukan hanyalah mengikuti nasehat umum yaitu, "Carilah uang dengan melakukan apa yang kamu bisa dan ahli di situ."

Itu adalah langkah awal yang menurut saya perlu dilakukan kalau sudah bicara soal memenuhi kebutuhan hidup. Lupakan dulu passion, targetkan penuhi kebutuhan hidup dulu dengan kerja apapun sepanjang halal.

Memang ada kelemahannya untuk orang-orang seperti saya khususnya, yaitu karena fokusnya adalah uang, saya TERPAKSA melakukan pekerjaan apapun meski saya tidak suka dengan pekerjaannya dan seringkali kelelahan serta jenuh dengan pekerjaan tersebut.

Yang bisa membuat saya bertahan hanyalah berusaha untuk SABAR dan berusaha MENSYUKURI jalan rejeki yang saya jalani saat itu. Tetapi di sisi lain tetap berusaha untuk menemukan passion yang sebenarnya.

Tetapi dalam perjalanan menemukan passion, saya juga akhirnya sadar bahwa yang namanya passion itu mirip-mirip dengan kisah cinta. Yaitu, tidak selalu kita suka pada seseorang di awal pertemuan, bahkan bisa jadi kita membencinya, tapi seiring waktu berlalu, kita mulai menemukan hal-hal yang menarik dari orang tersebut, sehingga lama kelamaan rasa itu tumbuh dengan sendirinya.

Mungkin awalnya kita benci dengan pekerjaan kita, mungkin kita merasa terpaksa melakukannya karena kita butuh uangnya. Tapi ketika kita memetik hasil dari pekerjaan itu, terutama jika meraih hasil yang besar, bisa saja terjadi tiba-tiba saja kita jadi menyukai pekerjaan tersebut dan merasa antusias untuk melanjutkannya.

Jadi kalau menurut saya sih kalau Anda galau antara passion dan uang, saran saya adalah tetap jalani dan syukuri dulu apa yang Anda kerjakan saat ini, sambil berdoa pada Allah mohon ditunjukkan pekerjaan yang terbaik yang kita senang mengerjakannya.

Hal yang terbaik bagi Anda tersebut bisa jadi Anda akan dipertemukan dengan pekerjaan yang Anda punya passion di situ, atau bisa jadi Anda lama kelamaan akan menyukai pekerjaan yang Anda jalani saat ini dan akhirnya sukses di bidang tersebut.

Ituh!

Saturday, May 6, 2017

Jomblo Tak Berarti Maho

Entah kenapa status jomblo itu rentan dengan pembully-an. Terutama di social media, adaaa aja yang bikin status membully jomblo. Misalnya:

Truk aja gandengan, masa kamu nggak?

Pas ada berita orang yang menikah muda, muncullah meme, "Umur 17 tahun aja udah nikah, kamu udah kepala tiga kemana aja?"

Dan banyak lagi bully-an lainnya yang sudah banyak beredar memenya di dunia maya. Sehingga tak heran jika ada yang membalas dengan meme majalah hidayah bertuliskan headline, "Semasa hidup suka membully jomblo jenasah susah dikebumikan."


Saya suka prihatin kalo lihat mereka yang masih berstatus jomblo yang serba salah ketika nyetatus di FB.

Nyetatus motivasi, memang banyak orang yang komen berterimakasih karena merasa tercerahkan. Tapi biasanya ada aja satu orang yang komen, "Trus kapan nikah?"

Nyetatus jualan laris, banyak yang komen kagum bahkan minta diajari ilmunya. Tapi biasanya ada aja satu orang yang komen, "Yang jualannya sendiri udah laris belum?"

Nyetatus lagi sakit, apalagi kalo masuk RS, memang banyak yang komen mendoakan kesembuhan. Tapi biasanya ada aja satu orang yang komen, "Makanya cepet nikah".

Bahkan mungkin saking terlalu sering dibully, ada orang yang suka membully dirinya sendiri duluan sebelum dibully orang wkwkwk.

Memang ada jomblo yang kebal dibully, tapi ga sedikit juga yang sensitip dengan pembully-an.

Menurut pendapat dan pengamatan saya sebagai mantan jomblo, memang ada tipe jomblo yang termotivasi gara-gara dibully dan akhirnya menikah. Tapi latar belakang kejombloan tiap orang berbeda dan gak bisa disamaratakan solusinya dengan pembully-an. Karena mereka yang memiliki trauma masa lalu tidak bisa pulih begitu sajah hanya dengan dibully.

Begitu pula dengan mereka yang tidak percaya diri karena merasa memiliki kekurangan seperti cacat fisik misalnya.

Jadi bukan berarti yang jomblo itu tidak mau segera menikah. Dan tidak selalu mereka masih jomblo dikarenakan terlalu milih-milih, meskipun pada dasarnya memilih itu harus, karena beli cabe di pasar aja harus milih, apalagi jodoh wkwkkw.

Saya mengamati tidak sedikit mereka yang sudah usaha lewat ta'aruf, tapi belum juga berhasil mendapatkan pasangan, padahal mereka sudah oke dengan calonnya, tapi si calonnya yang gak sreg.

Atau mereka yang trauma dan memiliki luka batin karena pengalaman cinta yang menyakitkan, biasanya tidak bisa dipaksakan untuk cari pengganti dan menikah segera, meski dinasehati bahwa obatnya luka cinta adalah menemukan cinta baru, dan cinta itu bisa tumbuh seiring waktu, tapi tidak semudah itu bagi mereka yang trauma dengan cinta. Bahkan secara ekstrimnya mau dibilang 'bodoh' karena gak mau membuka hati pun mereka biasanya tak akan bergeming dan mekanisme pertahanan dirinya akan terpicu dalam bentuk kemarahan, balik membentak, atau melakukan aksi diam tak mau bicara, atau menghindar jauh.

Saya juga pernah mengenal seorang teman wanita yang telat menikah karena sang ayah yang tak pernah menyetujui pria yang dia cintai. Kalau kasusnya begini apa dia pantas untuk dibully?

Pengalaman setiap orang berbeda, dan perjalanan kesadaran setiap orang pun berbeda. Ada orang yang cepat sadar untuk segera bangkit, tapi ada yang butuh waktu lama untuk sembuh meski dibombardir segala motivasi untuk melepas masa lalu yang menyakitkan. Kita hanya bisa menasehati dan memotivasi bahkan memberikan terapi, tapi yang membuat keputusan untuk bangkit dan sembuh hanyalah orangnya sendiri.

Menikah dengan niat ibadah karena Allah adalah jalan yang terbaik, dan itu harus. Cukup banyak orang yang menikah lewat jalur ta'aruf, dan mereka tidak melihat sisi fisik dari calon pasangannya karena mereka menilai ahlak sebagai faktor utama. Dan tidak sedikit mereka yang menempuh jalur ta'aruf tersebut yang bisa segera menikah dan tetap awet sampai maut memisahkan. Tetapi level kesadaran dan iman manusia yang berbeda-beda lah yang membuat tidak semua orang menempuh jalur yang sama. Perjalanan kesadaran itu tidak mudah, karena kalau semudah itu, maka semua orang yang jomblo pasti sudah cepat menikah.

Jadi kembali ke soal pembully-an, saya pernah baca quote-quote religius tentang sindiran kepada mereka yang belum menikah meski sudah layak menikah. Tetapi tentunya sindirannya halus dan bukan membully. Selain itu sebaiknya kita pahami dulu latar belakang kejombloan orang yang mau disindir, dan tidak dilakukan berulang-ulang hingga malah berubah menjadi pembully-an.

Kalau mau bikin status ngebully jomblo, sebaiknya pastikan dulu di keluarga kita sendiri tidak ada yang masih jomblo. Jangan sampai membully orang lain bisa, tapi menasehati keluarga sendiri nggak bisa. Jangan sampai pembully-an jomblo pada orang lain itu sebenarnya didasari rasa frustasi karena tak bisa menasehati anggota keluarga sendiri untuk segera menikah.

Atau kalau mau membully di social media, pastikan di friend list kita ga ada mereka yang jomblo karena latar belakang yang tidak bisa kita pahami, apalagi jika mereka merasa terdzolimi oleh status pembully-an tersebut sehingga salah-salah kita malah kena efek balik dalam bentuk apapun sebagai akibat dari pembully-an yang dilakukan atas dasar cari hiburan karena sedang sutres.


Mungkin saja bully-an itu ditujukan pada seseorang atau beberapa orang teman. Tetapi jika dilakukan di social media, kita tidak pernah tahu bisa jadi di friend list kita banyak yang jomblo dan jadi tersinggung dengan status tersebut, padahal mereka bukan tidak mau menikah tapi punya latar belakang yang tidak dipahami oleh si pembully.

Dan kalau ada orang yang dulunya jomblo akut, tapi setelah menikah berbalik jadi pembully jomblo, maka mungkin dia amnesia kalau pernah ada di posisi yang sama dengan para jomblo.

Intinya kalau kita gak bisa bantu mencarikan jodoh, atau membantu melepaskan trauma mereka, atau membantu menumbuhkan kepercayaan diri mereka, maka minimal bantulah doa agar mereka segera mendapatkan jodoh yang terbaik sesuai kehendakNya, karena saya rasa itu lebih berpahala dibandingkan membully mereka yang mungkin malah nambah-nambah dosa.

Akhir kata, saya doakan buat yang masih lajang apapun latar belakangnya, semoga dimudahkan Allah SWT untuk segera bertemu dengan jodohnya yang terbaik pada saat yang paling tepat sesuai kehendakNya. Aamiin Yaa Robbal Aalamiin.